twitter



TAMAN KECIL
Karya Gufran Algifari

Sejak kecil aku dibesarkan oleh kakek dan nenek. Kedua orangtua bercerai dan meninggalkan aku bersama kakek dan nenekku. Kedua orangtuaku itu kini telah memiliki keluarga baru masing-masing. Ibu menikah dengan seorang lelaki kaya dan memiliki dua orang anak dan hidup ibu sungguh bahagia tanpa mengingatku lagi. Sedangkan Ayah, Ayah kini menikah dengan seorang janda yang juga kaya raya dan tinggal bersama ketiga anak tirinya dan sama seperti Ibu, Ayah tidak mengingatku lagi.

Kini aku bersekolah di salah satu sekolah menengah atas negeri di tempat aku tinggal. Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa berprestasi untuk sekolah di sana dan ada orang yang mau membiayai keperluan sekolahku seperti buku, baju, tas, sepatu, dan kebutuhan sekolah lainnya. Namun, itu hanya untuk biaya sekolah. Aku hidup dengan usahaku sendiri, aku menjual hasil kebun kakek ke pasar dan menjajakan kue hasil tangan nenek yang rasanya enak.

Taman Kecil
Tidak setiap hari aku menjual hasil kebun dan menjajakan kue. Kalau kebun kakek hanya bisa menghasilkan hasil kebun hanya dua kali selama tiga bulan. Sedangkan nenek, nenek tidak bisa setiap hari membuat kue karena bahan baku untuk membuat kuenya mahal.
“Kek, Nek, ini hasil jualannya,” kataku memberikannya kepada nenek.
“Iya nak, sana pergi makan kamu pasti lapar,” kata nenek.
“Iya Nek, kalau gitu Beni makan dulu yah?” kataku sambil meninggalkan kakek dan nenek.
“Makan yang banyak yah?” sahut nenek dari depan.
“Iya nek,” jawabku.
***Keesokan harinya aku seperti biasa ke sekolah dan Alhamdulillah tadi subuh nenek buat kue untuk aku jajakan di sekolah. Sesampai di sekolah seperti biasa juga, aku di olok-olok sama teman-temanku yang memang terlahir di keluarga yang kaya dan bahagia.
“Hei, lihat si Beni sang penjual kue,” teriak Jihan sambil menunjuk ke arahku. Seketika semua orang di dekat Jihan dan sekitar aku menertawaiku. Namun, Nabilah yang juga termasuk orang kaya sangat berbeda dengan mereka ia tidak menyukai kalau ada orang yang dihina kayak aku.
“Kalian kenapa sih? Emang kalian tidak kasihan apa, lihat Beni mencari uang untuk menyambung hidupunya!” bentak Nabilah.
“Kamu tuh yang kenapa, kenapa kamu bela dia Nabilah? Kamu naksir yah?” tanya Jihan spontan.
“Aku nggak naksir dia, aku cuma kasihan lihat dia yang setiap hari kalian tertawai, apa kalian tidak malu apa. Dia menjual kue untuk kakek dan neneknya. Sedangkan kalian dan juga aku hidup senang dengan uang hasil jeri payah orang tua, beda dengan Beni,” jawab Nabilah.

Jihan dan teman-temannya hanya terdiam menunduk mendengar penjelasan Nabilah.
“Beni, ayo pergi tinggalin mereka,” ajak Nabilah.
“Iya Nab,” jawabku sambil mengikuti Nabilah dari belakang.
“Nanti kalau kamu di kasih gitu lagi, langsung tinggalin mereka jangan berdiri tegak di depan mereka,” katanya Nabilah dengan sisi yang lebih lembut.
“Gak apa Nab, aku udah hampir tiap hari kok di gituin,” jawabku
“Biasa sih biasa tapi jangan di biasain donk, emang kamu gak sakit hati apa di gituin?” tanya Nabilah berhenti di depan kelas.
“Kan kenyataan gitu, aku hanya seorang penjual kue beda dengan kalian,” jawabku singkat.
“Iya sih, tapi aku kasihan liat kamu di giniin,” kata Nabilah.
“Aku masuk dulu yah? Mau taruh tas dan membawa kue ini ke kantin,” kataku.
“Ok, aku juga boleh ikutkan ke kantin?” tanyanya.
“Iya boleh,” jawabku sambil berjalan menuju kursiku begitu juga Nabilah yang sekelas dengan aku.

Sepulang sekolah, aku langsung ke kantin dan mengambil hasil penjualan kue nenek terjual dengan upah Rp. 67.000 yang sudah cukup banyak di kehidupan aku, kakek, dan nenek. Di perjalanan pulang mobil putih berhenti di samping dan ternyata itu Nabilah.
“Ben, naik gih aku antarin kamu ke rumah, yah silahturahmi juga ama nenek dan kakek kamu,” kata Nabilah.
“Kagak usah Nab, biar aku jalan saja nanti mobil kamu kotor karena sepatuku yang penuh kotoran,” jawabku menolak.
“Kan ada jasa cuci mobil jadi kagak usah takut kotor,” sambil turun dari mobilnya lalu menarikku masuk ke mobil.
“Kagak usah Nab, aku jalan aja,” kataku menolak.
“Kalau kamu gak mau pulang bareng aku, aku ngambek!” kata Nabilah.
“Baiklah aku terima tawaranmu,” jawabku.

Sekitar lima belas menit perjalanan akhirnya kami sampai di sekitar tempat tinggal aku yang kumuh.
“Rumah kamu di mana Ben, kok gak ketemu-ketemu?” tanya Nabilah.
“Turun di sini aja Nab, rumah aku di gang kecil itu,” jawabku sambil turun dari mobil.
“Yakin di sini aja? Kan masih jauh, perlu aku anterin?” pinta Nabilah.
“Emang mau ikut? Nanti sepatu kamu kotor lagi, kagak usah deh,” jawabku.

Nabilah langsung turun dari mobilnya dan memberi tahu sopirnya agar menunggu sebentar. Ku perhatikan Nabilah tidak ada rasa jijik berjalan di gangku yang sempit dan bau ini. Dia hanya tersenyum ke arahku dan sesekali berteriak karena ada kecoak yang lewat di dekatnya. Sesampai di depan rumah, Nabilah terdiam.
“Kamu kenapa Nab?” tanyaku.
“Gak kok, ayo masuk!” ajaknya.

Kami pun masuk dan di sambut oleh kakek dan nenekku.
“Dia siapa Beni?” tanya kakek.
“Namanya Nabilah kek, dia teman sekolah aku,” jawabku
“Kenalin Kek, Nek, aku Nabilah,” sahut Nabilah memperkenalkan diri.

Tak lama kemudian Nabilah berpamitan pulang karena sopirnya sudah datang menjemput Nabilah.
***

Aku sangat bersyukur bisa mempunyai teman seperti Nabilah. Bisa mengerti keadaan yang aku alami, dia seperti taman kecil yang tak memilih-milih teman. Aku sebagai bunga liar diizin untuk hidup di taman kecilnya. Rasanya hidup begitu mudah untuk ku lalui.
Mungkin susah mencari orang seperti Nabilah untuk kedua kalinya, maka dari itu aku takkan pernah mengecawakannya.
“Upz, maaf yah udah ngejatuhi kue mu?” kata Farel dengan muka sombongnya.
“Iya gak apa-apa,” jawabku.
“Kamu mau, aku ganti berapa kuenya, ini ada sedikit uang,” mengeluarkan uang puluhan ribu yang diberi oleh orang tuanya.
“Kamu sebaiknya menabung uang itu, aku masih bisa cari uang sendiri,” jawabku.
“Oh, sombong yah?” katanya sambil mendorong pundakku.
“Aku tidak sombong, aku nyadar diri kok,” kataku meninggalkan Farel.

Sesampai di kantin aku langsung menitipkan kue nenek lalu ku berjalan ke kelas. Perjalanan ke kelas aku berpapasan dengan Nabilah jadi kami berjalan bersama menuju kelas.
Tadi bukannya masalah sudah selesai tapi Farel memperkeruh masalah dengan menaruh paku di tempat aku duduk, “Sial,” tapi aku tidak membalas itu dengan keburukan tapi aku membalasnya dengan mendapatkan nilai ulangan yang cukup baik, sedangkan dia di bawah rata-rata. Mungkin Farel merasa malu sendiri.
***

Keesokan harinya, semua begitu berubah. Entah apa yang sedang terjadi atau ini sebuah mukhjizat-Nya. Semua teman yang menghinaku, kini balik member pujian untuk diriku. Entah ada apa aku masih tidak mengerti dengan apa yang di atur oleh-Nya.
“Hei Ben,” sapa Farel.
“Hai,” sapaku balik.

Aku terus berjalan, senyuman demi senyuman pun terbentuk dari lekukang bibir siswa di sekolah. Aku tambah penasaran apa yang sebetulnya terjadi.
“Hai Beni, selamat yah?” kata Nabilah.
“Untuk apa?” tanyaku keheranan.
“Ah, jangan pura-pura gak tau,” ledek Nabilah.
“Kamu berhasil mempermalukan Farel yang super duber sombong itu,” katanya.
“Dengan sebuah Nilai Nab?” tanyaku.
“Iya, hanya sebuah nilai, itu bukti kalau orang yang baik akan mendapatkan kebaikan,” jawabnya.
“Tapi?” tanyaku lagi.
“Udah baikan? Masih sakit?” tanyanya.
“Alhamdulillah, udah enggak,” jawabku.

Kini semua rata, semua adalah taman kecilku, mereka yang menerima aku apa adanya. Dengan kenyataan hidup yang pahit, aku mampu membuatnya manis karena berteman dengan mereka yang tak lagi menghina dan mencelahku. (TAMAT)


DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2013/04/taman-kecil-cerpen-motivasi-persahabatan.html#ixzz2SvvMQjYX

0 komentar:

Poskan Komentar

mp3

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info